Surabaya,Spotnews.id- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyoroti sejumlah tantangan utama perekonomian daerah, mulai dari kualitas pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga hilirisasi riset perguruan tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dinilai perlu diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyampaikan, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut meningkat menjadi 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y) pada triwulan I 2026 dan mencapai 5,72 persen pada triwulan II 2026.
“Capaian tersebut perlu diikuti peningkatan kualitas lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat daya saing perdagangan, serta menjamin ketersediaan energi yang andal untuk mendukung industri,” kata Adik di Surabaya, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Refleksi 81 Tahun dan Outlook Ekonomi Jatim 2026 yang digelar Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (JEBS) di Surabaya, Selasa.
Dalam forum tersebut, Adik menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu dilihat tidak hanya dari angka statistik, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.
Ia menyoroti tingkat kemiskinan Jawa Timur yang mencapai 9,06 persen pada Maret 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 3,42 persen pada Mei 2026.
Menurut Adik, data tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi agar peningkatan aktivitas ekonomi dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pengangguran Terdidik Jadi Perhatian
Selain pemerataan ekonomi, Kadin Jatim menyoroti persoalan pengangguran terdidik yang berkaitan dengan belum optimalnya kesesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dan sekolah vokasi dengan kebutuhan industri.
Adik menilai, kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, dan pemerintah perlu diperkuat untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi lulusan pendidikan.
Penguatan hubungan antara pendidikan dan industri diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih siap memasuki dunia kerja. Langkah tersebut juga dinilai berpotensi meningkatkan daya tarik investasi dan memperluas kesempatan kerja bagi lulusan sarjana maupun sekolah vokasi di Jawa Timur.
Dengan demikian, kebutuhan industri dapat dipenuhi oleh tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.
Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi Perlu Diperkuat
Tantangan berikutnya adalah hilirisasi riset perguruan tinggi. Kadin Jatim menilai hasil penelitian dan inovasi kampus belum optimal dimanfaatkan oleh dunia industri untuk menghasilkan produk maupun teknologi yang memiliki nilai ekonomi.
Adik menegaskan, riset perguruan tinggi perlu didorong agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi inovasi yang menjawab kebutuhan pasar dan meningkatkan daya saing industri daerah.
“Kolaborasi dunia usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah perlu diperkuat agar riset dan inovasi dari perguruan tinggi di Jatim dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian Jatim,” katanya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan inovasi, mulai dari penelitian, pengujian, hingga penerapan teknologi dalam kegiatan produksi dan usaha.
KEK Didorong Perkuat Industri dan Rantai Pasok
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rudi Purwono menekankan pentingnya optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mendorong investasi manufaktur, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah industri di Jawa Timur.
Menurut Rudi, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk. Keterlibatan industri menengah, industri kecil, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam rantai pasok juga perlu menjadi perhatian.
Ia menilai keterhubungan antara industri besar dan pelaku usaha lokal dapat memperluas manfaat investasi sekaligus memperkuat struktur perekonomian daerah.
“Industri besar diharapkan mampu menggerakkan industri menengah, kemudian mendorong industri kecil sehingga keterkaitan antarpelaku usaha memperkuat kinerja industri secara keseluruhan,” katanya.
Penguatan rantai pasok tersebut diharapkan dapat membuka peluang pasar bagi UMKM, meningkatkan kapasitas produksi pelaku usaha lokal, serta memperluas distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi.
Berbagai masukan dalam FGD tersebut menegaskan bahwa tantangan ekonomi Jawa Timur ke depan bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan lapangan kerja berkualitas, mendorong inovasi industri, memperkuat keterlibatan UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.
(Laporan:Spotnews.id-RYn)

