Sidoarjo,Spotnews.id- Sehari setelah dilantik sebagai Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (PW MES) Jawa Timur periode 2026–2031, Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan atau yang akrab disapa Gus Heri menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengembangan ekonomi syariah. Baginya, tantangan ke depan bukan sekadar mengoptimalkan potensi, melainkan mengubahnya menjadi kapasitas, daya saing, dan dampak nyata bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Gus Heri saat ditemui Spotnews.id di kantor Santripreneur Academy Nusantara Foundation (SAN Foundation), Sidoarjo, Minggu (27/9/2026). Pemenang Utama Santripreneur Award 2025 tersebut memandang amanah barunya di MES Jatim sebagai perluasan ruang pengabdian atau khidmah.
“Saya memandang ini sebagai amanah dan perluasan ruang khidmah. Saya tidak datang membawa agenda sendiri. Saya ingin mendengar, belajar, dan melihat bagaimana pengalaman serta kapasitas yang kita miliki dapat dipertemukan dengan kerja bersama di MES,” ujar Gus Heri.
Gus Heri dilantik bersama jajaran pengurus PW MES Jatim di Grand City Surabaya, Sabtu (26/9/2026). Kepengurusan periode 2026–2031 tersebut dipimpin Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebagai Ketua Umum.
Amanah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Gus Heri selama ini yang bersentuhan dengan dunia pesantren, kewirausahaan, bisnis, riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman dan kiprahnya dalam mengembangkan kewirausahaan santri mendapat pengakuan melalui penghargaan Pemenang Utama Santripreneur Award 2025. Namun, gagasan santripreneur yang dikembangkannya tidak sebatas mendorong santri memiliki usaha. Lebih dari itu, ia menilai santri perlu dibekali kompetensi, inovasi, teknologi, riset, serta kemampuan membaca peluang ekonomi baru.
Ikhtiar tersebut diwujudkan melalui SAN Foundation, lembaga yang didirikannya sebagai wadah pengembangan kewirausahaan santri dan kemandirian ekonomi berbasis pesantren. Berbagai upaya dilakukan melalui penguatan kapasitas, jejaring, inovasi, serta peningkatan kemampuan dalam menangkap peluang usaha.
Selain aktif dalam pemberdayaan pesantren, Gus Heri juga memiliki pengalaman langsung di dunia bisnis. Salah satunya melalui PT Riset Manajemen Indonesia yang bergerak di bidang riset, survei, dan konsultasi manajemen.
Melalui lembaga tersebut, ia mengembangkan pendekatan berbasis data untuk membantu organisasi mengidentifikasi persoalan dan menentukan langkah strategis. Layanan risetnya telah menjangkau perusahaan swasta maupun institusi pemerintah di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, pelayanan kesehatan dan rumah sakit, hingga institusi pendidikan.
“Dalam bisnis maupun organisasi, intuisi tetap penting. Tetapi semakin kompleks persoalannya, semakin kita membutuhkan data dan bukti untuk mengambil keputusan,” katanya.
Pengalaman Gus Heri dalam kewirausahaan digital syariah juga telah dimulai sejak pandemi Covid-19. Ketika pelaku usaha menghadapi perubahan pasar dan tuntutan adaptasi digital, ia turut berkontribusi dalam pendidikan masyarakat melalui program Digital Entrepreneurship Academy (DEA) Syariah di lingkungan BPSDMP Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Di bidang akademik, Gus Heri mengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (FEB Unesa). Perpaduan pengalaman di lingkungan pesantren, bisnis, riset, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan tersebut membentuk perspektifnya dalam memandang pengembangan ekonomi syariah.
Dalam perbincangan dengan Spotnews.id, Gus Heri menekankan pentingnya mengarahkan pembahasan ekonomi syariah pada persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya memperbesar potensi, tetapi juga membangun kapasitas dan daya saing agar mampu bersaing di pasar.
“Setelah produk mendapatkan sertifikasi halal, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana produk itu naik kelas. Setelah UMKM mendapat pelatihan, bagaimana pasarnya bertambah. Setelah pesantren memiliki unit usaha, bagaimana usahanya dikelola secara profesional dan berkelanjutan,” tuturnya.
Menurut Gus Heri, penguatan ekonomi syariah membutuhkan perhatian terhadap berbagai aspek, mulai dari kualitas produk, manajemen, pembiayaan, teknologi, kontinuitas produksi, penguatan merek, distribusi, hingga perluasan akses pasar.
Jawa Timur, lanjutnya, memiliki modal besar untuk mengembangkan ekosistem ekonomi syariah. Potensi pesantren dan santri berpadu dengan kekuatan UMKM, industri halal, perguruan tinggi, lembaga keuangan, komunitas usaha, serta berbagai sektor produktif lainnya.

Namun, besarnya potensi tersebut tidak serta-merta menjamin terciptanya kekuatan ekonomi yang kompetitif. Diperlukan pengelolaan yang profesional, inovasi, kolaborasi, serta strategi pengembangan pasar yang berkelanjutan.
“Jangan sampai kita besar pada potensi, tetapi lemah ketika masuk pasar. Produk halal tidak cukup hanya tersedia. Produk itu juga harus berkualitas, kompetitif, dan diterima pasar,” ujarnya.
Perspektif tersebut juga diterapkan Gus Heri dalam melihat pengembangan ekonomi pesantren. Menurutnya, pesantren memiliki modal penting berupa sumber daya manusia, komunitas, jejaring, kepercayaan, dan potensi pasar. Tantangannya adalah bagaimana mentransformasikan berbagai modal tersebut menjadi aktivitas ekonomi yang produktif, profesional, dan berkelanjutan.
Dalam struktur kepengurusan PW MES Jatim periode 2026–2031, Gus Heri dipercaya menjadi bagian dari Departemen Hubungan Kerja Sama Internasional dan Ekspor Halal. Meski demikian, ia memilih untuk tidak terburu-buru menyampaikan program kerja sebelum memahami arah organisasi dan membangun komunikasi dengan seluruh jajaran pengurus.
Baginya, penguatan industri halal, UMKM, ekonomi pesantren, keuangan syariah, teknologi, perdagangan, investasi, hingga akses pasar merupakan bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu aspek penting dalam mengembangkan ekonomi syariah di Jawa Timur.
Ia berharap amanah baru di MES Jatim dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman, kapasitas, dan jejaring yang selama ini telah dibangun, sekaligus membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Menjelang akhir perbincangan, Gus Heri kembali menekankan satu hal yang menurutnya menjadi tolok ukur penting perkembangan ekonomi syariah, yakni dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Ketika usaha masyarakat semakin kuat, UMKM bertumbuh, usaha pesantren berkembang, produk halal semakin berdaya saing, pasar semakin terbuka, dan kesempatan kerja semakin luas, ekonomi syariah akan semakin nyata manfaatnya. Orientasi akhirnya tetap kemaslahatan,” pungkasnya.
(Laporan:Spotnews.id-RYn)

