Malang,Spotnews.id- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menyatakan pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Bromo melalui helikopter water bombing belum dapat dilakukan sementara waktu karena terkendala kondisi cuaca.
Cuaca berupa angin kencang dan awan tebal membuat operasi udara berisiko dilakukan. Karena itu, penanganan kebakaran untuk sementara sepenuhnya dimaksimalkan melalui operasi darat oleh tim gabungan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Satriyo Nurseno mengatakan, pihaknya sebenarnya telah siap melaksanakan operasi water bombing. Namun, kondisi angin yang cukup kencang membuat helikopter kesulitan untuk melakukan penerbangan menuju lokasi kebakaran.
“ Sebenarnya kami siap melakukan water bombing, tetapi cuaca tidak mendukung, angin kencang itu yang akhirnya menghambat helikopter saat akan naik,” kata Satriyo saat ditemui di Jemplang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat tim tidak berani mengambil risiko melakukan pemadaman melalui jalur udara. Angin kencang dikhawatirkan dapat memicu turbulensi yang membahayakan keselamatan pilot maupun kru helikopter.
Selain angin, keberadaan awan tebal juga menjadi kendala karena dapat membatasi jarak pandang pilot ketika melakukan operasi pengeboman air.
Dengan kondisi tersebut, petugas gabungan kini memaksimalkan upaya pemadaman dan pembasahan area terdampak melalui jalur darat. Sarana dan prasarana yang tersedia di lokasi terus dioptimalkan untuk mencegah api semakin meluas.
“Kami berupaya supaya tidak merambat ke pemukiman, fokusnya di situ,” ujar Satriyo.
Api Meluas Akibat Angin Kencang
Kencangnya angin di kawasan Bromo diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan titik api meluas dari arah Sabana Pengol, Kabupaten Probolinggo, menuju kawasan Jemplang di Kabupaten Malang.
Perluasan titik api tersebut terjadi pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 16.20 WIB.
Sementara itu, kebakaran pertama kali diketahui muncul di kawasan Sabana Pengol pada Kamis (10/9).
Satriyo mengatakan, operasi water bombing sebenarnya telah dilakukan selama dua hari, yakni pada Jumat (11/9) dan Sabtu (12/9).
“Dua hari terakhir, Jumat sudah 17 ribu liter kami drop, kemarin 15 ribu liter dan hari ini nol,” katanya.
Dengan demikian, selama dua hari operasi udara, total air yang dijatuhkan untuk membantu pemadaman mencapai sekitar 32 ribu liter.
Ratusan Personel Gabungan Dikerahkan
Penanganan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, mulai dari Sabana Pengol hingga Jemplang, melibatkan ratusan personel gabungan.
Tim tersebut berasal dari berbagai unsur, di antaranya Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, Kepolisian, TNI, serta para relawan.
Masing-masing unsur dikerahkan untuk melakukan pemadaman, pembasahan lahan, pemantauan titik api, sekaligus mengantisipasi agar kebakaran tidak merambat ke wilayah lain, terutama kawasan yang berdekatan dengan permukiman.
Berdasarkan pantauan di kawasan Bromo, petugas gabungan masih terlihat melakukan pemadaman terhadap kepulan asap yang muncul dari area rerumputan di bawah kawasan Jemplang yang mengarah masuk ke Gunung Bromo.
Sejumlah vegetasi di kawasan tersebut tampak telah berubah menjadi hitam pekat akibat terbakar. Dampak kebakaran juga terlihat hingga bagian atas tebing setelah api melanda kawasan tersebut pada Sabtu (12/9) sore.
Sementara itu, sejumlah petugas gabungan masih bersiaga di kawasan Jemplang untuk memantau perkembangan kondisi kebakaran dan mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Operasi pemadaman darat terus dilakukan sembari menunggu kondisi cuaca memungkinkan untuk kembali melaksanakan operasi water bombing.
(Laporan:Antara//SPotnews.id-RYn)






