Surabaya,Spotnews.id – Momentum Wisuda ke-263 Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi refleksi mendalam bagi Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M., yang akrab disapa Gus Heri. Setelah menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, ia membawa pesan sederhana namun penuh makna dari sang promotor: ilmu harus bertumbuh menjadi kemanfaatan bagi masyarakat.
Gus Heri mengikuti prosesi Wisuda ke-263 UNAIR di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C Surabaya, Sabtu (5/9/2026).
Sebelum tiba di lokasi wisuda, Gus Heri menghubungi promotornya, Prof. Indrianawati Usman, untuk memohon doa dan restu. Dari percakapan tersebut, ia mendapatkan pesan yang kemudian membekas dalam perjalanan akademiknya.
“Semoga meningkat kemanfaatan Gus Heri dalam meniti perjalanan usia ke depan,” demikian pesan Prof. Indrianawati Usman.
Bagi Gus Heri, kalimat tersebut bukan sekadar ucapan selamat atas keberhasilannya meraih gelar doktor.
“Pesan itu membekas bagi saya. Pendidikan doktor bukan hanya tentang memperoleh gelar atau menghasilkan pengetahuan baru. Ketika ilmu bertambah, semestinya kemanfaatan juga semakin bertambah,” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan doktor, Gus Heri mendapat bimbingan dari Prof. Indrianawati Usman sebagai promotor dan Praptini Yulianti sebagai ko-promotor. Proses akademik tersebut, menurutnya, telah membentuk disiplin ilmiah, ketajaman argumentasi, keterbukaan terhadap kritik, serta tanggung jawab terhadap setiap kesimpulan yang dihasilkan.
Tradisi Berpikir Ilmiah
UNAIR bukan lingkungan akademik baru bagi Gus Heri. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan pendidikan Magister Sains Manajemen di universitas tersebut pada tahun 2016.
Kembali menempuh pendidikan di UNAIR pada jenjang doktor semakin memperkuat keyakinannya bahwa tradisi berpikir ilmiah tidak seharusnya berhenti di lingkungan kampus.
“Berpikir ilmiah bukan hanya tentang teori dan metode penelitian. Ada proses memeriksa argumentasi, terbuka terhadap kritik, melihat persoalan dari berbagai perspektif, serta mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan secara akademik,” katanya.
Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan keilmuan. Justru setelah menyelesaikan pendidikan formal, muncul tantangan baru untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan berbagai persoalan nyata yang berkembang di tengah masyarakat.
Meneliti Suksesi Kepemimpinan Pesantren
Persoalan tentang keberlanjutan organisasi menjadi salah satu fokus utama penelitian doktoral Gus Heri. Dalam disertasinya, ia meneliti tentang suksesi kepemimpinan dan keberlanjutan pondok pesantren.
Melalui pendekatan multiple-case study, Gus Heri menelaah bagaimana pondok pesantren mampu menjaga keberlanjutan organisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penelitian tersebut memandang suksesi bukan sekadar pergantian figur pemimpin, tetapi merupakan proses yang lebih luas, mulai dari menyiapkan kapasitas kepemimpinan, menjaga nilai-nilai organisasi, membangun legitimasi, hingga memastikan keberlanjutan lembaga.
“Penelitian ini melihat suksesi sebagai sebuah proses, bukan sekadar peristiwa pergantian pemimpin,” jelasnya.
Dari penelitian tersebut, Gus Heri melahirkan Merit–Value–Legitimacy Succession Model (MVL Model). Model tersebut menempatkan merit atau kapasitas kepemimpinan, keberlanjutan nilai, dan legitimasi sebagai tiga dimensi penting yang saling berkaitan dalam proses suksesi organisasi.
Disertasi Gus Heri berjudul “Model Proses Suksesi Kepemimpinan untuk Mendukung Keberlanjutan Pondok Pesantren: Studi Multiple-Case Study”.
Disertasi tersebut dipertahankan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNAIR pada 25 Juni 2026. Dalam ujian tersebut, Gus Heri dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.
Dari Riset ke Ruang Publik
Bagi Gus Heri, sebuah riset tidak seharusnya berhenti menjadi dokumen akademik yang tersimpan di perpustakaan.
Kerangka penelitian mengenai suksesi dan keberlanjutan organisasi tersebut kemudian digunakan untuk membaca berbagai dinamika aktual yang berkembang di masyarakat, termasuk persoalan kepemimpinan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.
Perspektif tersebut memandang suksesi bukan hanya sebagai pergantian seorang tokoh, melainkan sebagai proses menjaga kapasitas kepemimpinan, nilai-nilai organisasi, legitimasi, independensi, serta keberlanjutan sebuah lembaga.
Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai dialog di televisi, radio, media massa, serta sejumlah tulisan opini.
“Riset tidak semestinya selesai ketika disertasi dipertahankan. Temuan akademik perlu terus diuji relevansinya, diterjemahkan ke dalam bahasa publik, dan dipertemukan dengan persoalan nyata yang berkembang di masyarakat,” katanya.
Ilmu Harus Memberi Dampak
Menurut Gus Heri, dalam bidang ilmu sosial dan manajemen, hilirisasi penelitian tidak selalu harus berbentuk produk atau teknologi.
Pengetahuan, menurutnya, juga dapat memberikan dampak ketika mampu menjadi perspektif dalam membaca persoalan, memperkaya diskursus publik, serta membantu organisasi dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Setelah sebuah penelitian selesai, ada pertanyaan berikutnya yang harus terus dijawab, yakni siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut dan perubahan apa yang dapat ikut dihadirkan di masyarakat,” ujarnya.
Pada momentum wisuda tersebut, Gus Heri menyampaikan terima kasih kepada promotor dan ko-promotor, para guru besar dan dosen, sivitas akademika FEB UNAIR, keluarga, kolega, sahabat, serta seluruh rekan seperjuangan yang telah memberikan dukungan selama perjalanan pendidikannya.
Baginya, perjalanan dalam memperoleh ilmu tidak pernah ditempuh seorang diri. Ada guru yang membentuk cara berpikir, lingkungan akademik yang menguji gagasan, keluarga yang memberikan kekuatan, serta masyarakat yang menjadi tempat ilmu menemukan relevansi dan kemanfaatannya.
Pesan sang promotor pada pagi hari menuju lokasi wisuda pun menjadi benang merah dalam perjalanan akademik Gus Heri.
“Toga pada akhirnya akan ditanggalkan. Yang harus tetap tinggal adalah budaya akademik dan tradisi berpikir ilmiah. Dari Airlangga saya belajar bahwa ilmu harus terus diuji, tetapi pesan guru saya pagi ini mengingatkan satu hal lagi: ilmu juga harus menemukan jalan kemanfaatannya bagi masyarakat,” pungkas Gus Heri.
(laporan:Spotnews.id-RYn)








