Surabaya,Spotnews.id- Ekonomi syariah bukan hanya berbicara tentang produk halal, transaksi keuangan, atau pertumbuhan industri. Lebih dari itu, ekonomi syariah hadir dalam keseharian manusia, mulai dari cara memperoleh rezeki hingga bagaimana hasilnya dikelola untuk menghadirkan kemaslahatan. Gagasan tersebut disampaikan oleh Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur, Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, melalui refleksi bertajuk Dzikir Kehidupan dan Ekonomi Syariah.
Menurut Dr. Heri, sepiring makanan yang tersaji di meja makan sesungguhnya menyimpan perjalanan panjang. Di baliknya terdapat kerja keras, tenaga, pikiran, dan rezeki yang diperoleh melalui berbagai ikhtiar. Karena itu, pembicaraan tentang makanan halal tidak berhenti pada apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana rezeki diperoleh dan digunakan.
“Kehalalan di meja makan sesungguhnya dimulai jauh sebelum makanan dihidangkan. Ia dimulai dari cara rezeki itu dicari,” ungkapnya.
Gagasan tersebut menemukan momentum pada penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 25–27 September 2026. Salah satu tema utama yang diangkat adalah Keluarga sebagai Penguat Ketahanan Ekonomi Syariah, yang menempatkan keluarga sebagai pusat penguatan nilai dan praktik ekonomi syariah.
Bagi Dr. Heri, tema tersebut menjadi ruang refleksi bahwa ekonomi syariah tidak hanya tumbuh melalui industri, lembaga keuangan, teknologi, maupun transaksi, tetapi juga melalui kesadaran manusia yang menjalankannya. Dari sinilah lahir konsep yang ia sebut sebagai Dzikir Kehidupan.
Setiap hari, aktivitas ekonomi dimulai dari rumah. Ada orang tua yang bekerja, pedagang yang membuka usaha, petani yang menuju lahan, pekerja yang memasuki kantor, hingga pelaku usaha digital yang berikhtiar melalui teknologi. Meski bentuk usahanya berbeda, tujuan utamanya sama, yakni menghadirkan penghidupan yang baik bagi keluarga.
Rezeki yang diperoleh kemudian dikelola untuk memenuhi kebutuhan, membiayai pendidikan anak, membantu orang tua, menabung, hingga menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Dalam pandangan Islam, mencari nafkah bukan sekadar persoalan pendapatan, tetapi juga mengandung nilai kehalalan, kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan.
Merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang diperoleh, tetapi juga bagaimana cara memperolehnya dan untuk apa hasil tersebut digunakan.
Dr. Heri menjelaskan, Dzikir Kehidupan merupakan bentuk kesadaran spiritual yang hadir dalam tindakan nyata. Jika dzikir ilahiah menjaga hubungan manusia dengan Allah SWT, maka Dzikir Kehidupan membawa kesadaran tersebut ke dalam ruang kerja, usaha, perdagangan, dan hubungan sosial.
“Ekonomi syariah bukan hanya sesuatu yang kita gunakan. Ia juga sesuatu yang kita jalani,” ujarnya.
Dalam praktiknya, pedagang tetap mencari keuntungan, pengusaha mengejar pertumbuhan, dan pekerja memperoleh upah. Namun, nilai syariah hadir untuk menjaga agar keuntungan diperoleh secara jujur, pekerja diperlakukan secara adil, dan keberhasilan diarahkan untuk memberi manfaat yang lebih luas.
Di pasar, nilai itu bernama kejujuran. Dalam pekerjaan, ia bernama amanah. Dalam mengelola keuntungan, ia bernama tanggung jawab. Dalam membangun kemandirian, ia menjadi keberdayaan. Dan ketika keberhasilan mampu menghidupi orang lain, ia berubah menjadi khidmah atau pengabdian.
Bagi kalangan santri, cara pandang ini bukan hal baru. Pesantren selama ini telah mengajarkan ilmu sekaligus adab. Di tengah dinamika pasar yang penuh persaingan, target, efisiensi, dan inovasi, nilai-nilai kesantrian tetap dapat berjalan beriringan dengan semangat kewirausahaan.
Penguatan industri halal, lembaga keuangan syariah, teknologi, UMKM halal, dan instrumen ekonomi sosial syariah membuka ruang yang semakin luas. Namun, pada akhirnya seluruh perkembangan tersebut bertumpu pada manusia yang menjalankannya.
Dr. Heri menegaskan, memperoleh rezeki hanyalah awal. Rezeki yang berkembang dan mampu membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, memperkuat ekonomi pesantren, atau mendukung pendidikan dan kemaslahatan, akan membawa kemandirian menuju keberdayaan.
“Pertanyaan reflektifnya adalah, siapa yang ikut bertumbuh karena keberhasilan kita? Di situlah Dzikir Kehidupan menemukan maknanya. Rezeki yang kita peroleh bukan hanya memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan membuat kehidupan,” pungkasnya.
(Laporan:Spotnews.id-Ryn)

