Surabaya,Spotnews.id – Pendampingan Universitas Airlangga (Unair) membawa perubahan nyata bagi Warung Makan Bu Ulfa, usaha kuliner skala mikro di Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya. Berbagai persoalan yang sebelumnya dihadapi pelaku usaha, mulai dari proses produksi yang masih manual, peralatan memasak yang kurang higienis, hingga tata kelola usaha, dibenahi melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan manajemen.
Salah satu perubahan paling terlihat terjadi pada proses produksi. Sebelumnya, pembuatan bumbu masih dilakukan secara manual menggunakan ulekan dan cobek. Setelah mendapatkan pendampingan serta peremajaan peralatan memasak berstandar pangan atau food grade, proses pengolahan bumbu kini dibantu dengan penggunaan chopper.
Penerapan alat sederhana tersebut mampu memangkas waktu pemrosesan memasak. Jika sebelumnya proses memasak membutuhkan waktu hingga lima jam, kini dapat diselesaikan sekitar tiga jam.
“Seblumnya pembuatan bumbu masih dilakukan secara manual. Dengan penggunaan alat seperti chopper, proses memasak yang sebelumnya mencapai lima jam bisa menjadi tiga jam,” jelas Tri Siwi Agustina.
Tri Siwi menjelaskan, program pendampingan tidak hanya berfokus pada pemberian peralatan kepada mitra. Tim PKM Unair terlebih dahulu melihat kebutuhan nyata yang dihadapi Warung Bu Ulfa, kemudian memberikan solusi yang mencakup proses produksi, inovasi produk, tata kelola usaha hingga digitalisasi.
“Kami ingin pendampingan ini benar-benar menjawab kebutuhan mitra. Jadi bukan sekadar memberikan alat, tetapi bagaimana teknologi yang sederhana sekalipun bisa membuat proses produksi lebih efisien dan pengelolaan usahanya menjadi lebih baik,” tutur Tri Siwi.
Warung Makan Bu Ulfa merupakan usaha kuliner skala mikro milik warga miskin binaan Pemerintah Kota Surabaya kategori Desil 2. Pendampingan dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unair yang terdiri atas Tri Siwi Agustina dan Puput Tri Komalasari dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Bambang Soeharto dari Fakultas Vokasi.
Kembangkan Inovasi Menu
Selain membenahi proses produksi, tim pendamping juga mendorong Warung Bu Ulfa untuk melakukan inovasi kuliner. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan bakso berbahan nangka muda atau tewel dengan metode Doing-Observation-Reflection-Action (DORA).
Melalui proses tersebut, mitra semakin terampil mengembangkan variasi menu. Sejumlah menu baru kemudian dihasilkan, antara lain Mie Ayam Toping Ceker Bakso Tewel hingga Capcay.
Menurut Tri Siwi, inovasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha mikro agar pelaku usaha tidak hanya bertahan dengan produk yang sudah ada, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan selera konsumen.
Libatkan 21 Mahasiswa Unair
Program pendampingan tersebut juga melibatkan sebanyak 21 mahasiswa Unair. Mereka tidak hanya melakukan observasi, tetapi turun langsung membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Warung Makan Bu Ulfa.
Ke-21 mahasiswa tersebut berasal dari tiga mata kuliah berbeda dan mempraktikkan materi perkuliahan secara langsung melalui skema rekognisi mata kuliah sebagai salah satu bagian dari proses pembelajaran.
Ketiga mata kuliah tersebut meliputi Manajemen Usaha Kecil Menengah pada Program Studi S1 Manajemen, serta Manajemen Kreativitas dan Inovasi dan Wirausaha Fashion dan Kuliner pada Program Studi S2 PSDM Peminatan Industri Kreatif.
“Mahasiswa belajar langsung dari persoalan riil mitra. Apa yang selama ini mereka pelajari di kelas, mulai dari manajemen usaha kecil, kreativitas, inovasi hingga kewirausahaan, mereka praktikkan langsung di sini,” tutur Tri Siwi.
Keterlibatan mahasiswa mencakup berbagai aspek usaha. Mereka membantu membedah tata kelola harga, menyusun buku menu, melakukan redesain identitas visual atau branding pada kemasan, mendaftarkan lokasi warung di Google Maps, hingga mendampingi penggunaan QRIS sebagai metode transaksi digital.
Dengan demikian, Warung Makan Bu Ulfa tidak hanya menjadi objek pengabdian, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Mereka belajar mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, menerapkan pengetahuan, serta melihat secara langsung dampak dari solusi yang diberikan.
Omzet Naik hingga Rp300 Ribu per Hari
Dampak pendampingan juga terlihat dari perkembangan kinerja usaha. Sebelum mendapatkan pendampingan, omzet Warung Bu Ulfa cenderung stagnan di kisaran Rp150 ribu per hari.
Setelah rangkaian pendampingan dilakukan, hingga Agustus 2026 omzet harian meningkat menjadi rata-rata Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Berdasarkan catatan program, peningkatan tersebut mencapai sekitar 70 persen dibandingkan kondisi awal.
“Yang paling terasa tentu usaha menjadi lebih terbantu. Proses memasak sekarang lebih cepat dan usaha juga semakin tertata. Kalau sebelumnya omzet sekitar Rp150 ribu per hari, sekarang rata-rata sudah sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu,” tutur Bu Ulfa.
Peningkatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi tepat guna, inovasi produk, pembenahan tata kelola dan digitalisasi dapat memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha mikro.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Nomor 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan SDGs Nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Mendapat Apresiasi Tim Reviewer Kemendiktisaintek
Model pendampingan yang menggabungkan pemberdayaan UMKM dengan proses pembelajaran mahasiswa tersebut mendapat perhatian dalam peninjauan lapangan Tim Reviewer Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kamis (3/9/2026).
Tim reviewer memberikan apresiasi positif karena program dinilai “membumi” dan mampu menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi mitra. Apresiasi khusus diberikan terhadap skema rekognisi mata kuliah yang menjadikan Warung Makan Bu Ulfa tidak sekadar sebagai lokasi pengabdian masyarakat, tetapi juga sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa.
“Warung Bu Ulfa menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi melihat masalah, merumuskan solusi, menerapkannya, kemudian melihat sendiri bagaimana dampaknya bagi mitra,” jelas Tri Siwi.
Skema tersebut mempertemukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan proses pendidikan dalam ruang yang sama. Di satu sisi, pelaku usaha mikro memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi dan pendampingan perguruan tinggi. Di sisi lain, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar secara langsung dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Pendampingan Warung Makan Bu Ulfa menunjukkan bahwa hilirisasi pendidikan dan pengabdian perguruan tinggi dapat dilakukan melalui persoalan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari efisiensi proses produksi, inovasi menu, pembenahan tata kelola dan branding, hingga digitalisasi usaha dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan.
Keterlibatan 21 mahasiswa Unair sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran tidak harus berhenti di ruang kelas. Persoalan nyata yang dihadapi UMKM dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
(Laporan:Spotnews.id-Ryn)






