Surabaya,Spotnews.id – Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said, menggelar launching dan bedah buku Bank Pembangunan Daerah: Resilient, Competitive and Contributive di Ruang Majapahit, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Rabu (12/08/2026).
Kegiatan tersebut digelar melalui kerja sama Sekolah Pascasarjana Unair, Bank Jatim, dan Harian Disway. Sekitar 100 peserta hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari dekan, guru besar, dosen ekonomi dan hukum, bankir, mahasiswa pascasarjana, Masyarakat Ekonomi Syariah, hingga PW ISNU Jawa Timur.
Buku karya Prof. M. Mas’ud Said yang juga merupakan Komisaris Independen Bank Jatim tersebut mengangkat tiga kata kunci penting dalam pengelolaan bank pembangunan daerah, yakni resilient, competitive, dan contributive.
Dalam paparannya, Prof. Mas’ud menjelaskan bahwa tiga kata tersebut menjadi tema penting ketika membicarakan perusahaan, khususnya perusahaan keuangan dan perbankan.
Ia mengilustrasikan dengan membayangkan 100 orang yang terdiri dari direksi, pemilik modal, komisaris, OJK, pemerintah, Kementerian Dalam Negeri hingga masyarakat umum dikumpulkan dan ditanya mengenai apa yang mereka harapkan dari sebuah perusahaan.
Menurutnya, jawaban yang muncul akan mengarah pada tiga hal utama, yakni keandalan atau resiliensi, daya saing, serta hasil dan kontribusi perusahaan.
“Keandalan atau resiliensi, daya saing dan hasil atau kontribusi atau laba perusahaan,” ujar Mas’ud.
Ia menegaskan bahwa bank tidak cukup hanya mampu menjalankan bisnis dalam kondisi normal. Perbankan juga harus memiliki tata kelola yang baik, kompetitif, serta kuat menghadapi berbagai guncangan dan ketidakpastian ekonomi.
“Bank harus andal, harus tahan banting dengan ketidakpastian ekonomi dan tuntutan pasar,” katanya.
Buku Bank Pembangunan Daerah: Resilient, Competitive and Contributive terdiri dari sembilan bab dan diterbitkan oleh Penerbit Kompas.
Kyai Zakki Mewakili Ketua Umum KADIN Jatim
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Drs. KH. Muhammad Zakki, C.Med., S.H., M.Si., hadir mewakili Ketua Umum KADIN Jawa Timur.
Kyai Zakki yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur serta Ketua Umum PPEN (Perkumpulan Pengusaha Emas Nusantara) turut memberikan pandangan terhadap buku karya Prof. M. Mas’ud Said.
Menurut Kyai Zakki, buku tersebut sangat bagus dan mampu memberikan inspirasi bagi dunia perbankan. Ia menilai penguatan institusi kelembagaan dan kemampuan melakukan penyesuaian strategi menjadi hal penting dalam menghadapi perkembangan industri keuangan.
“Buku ini sangat bagus. Menginspirasi perbankan. Penguatan institusi kelembagaan dan strategic improvisation menjadi penting,” ujar Kyai Zakki.
Menurutnya, penguatan kelembagaan yang dibarengi dengan strategi yang adaptif dapat membantu menciptakan sistem perbankan yang lebih kuat dan sehat.
Kyai Zakki juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola untuk meminimalisir potensi fraud dalam industri perbankan.
“Fraud perbankan akan terminimalisir. Kekuatan yang menekan akan membuat makin cerdas,” tegasnya.
Ia menilai tekanan dan tantangan yang dihadapi industri perbankan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, tekanan tersebut dapat menjadi pemicu bagi institusi untuk meningkatkan kecerdasan organisasi, memperkuat tata kelola, dan melahirkan strategi yang semakin adaptif.
Dahlan Iskan: Mengurus Bank Sekarang Tidak Mudah
Founder Disway Group dan Disway National Network, Dahlan Iskan, menilai buku karya Prof. M. Mas’ud Said layak dibahas secara mendalam karena ditulis oleh sosok yang kompeten.
Dahlan juga menyinggung asal Mas’ud dari Tulangan, Sidoarjo, yang memiliki sejarah sebagai salah satu kawasan pusat gula pada masa lalu.
Menurut Dahlan, pembahasan mengenai ketahanan dan daya saing perbankan semakin penting karena mengelola bank dalam kondisi saat ini bukan perkara mudah.
“Bank harus resilien, tahan banting. Untuk menjadi kuat dan kompetitif pasti banyak hal yang dikerjakan. Pasar sekarang mau yang baik-baik saja,” ujar Dahlan.
Dahlan juga menyebut buku tersebut merupakan karya ke-12 Prof. M. Mas’ud Said. Menurutnya, buku itu mengungkap banyak hal yang selama ini belum terungkap dan menjadi pengetahuan baru yang perlu dipelajari.
“Pak Mas’ud ini nulis buku yang ke-12. Banyak hal belum terungkap selama ini dan jadi hal baru yang kita harus pelajari,” katanya.

Tiga Kata Kunci bagi Perbankan
Direktur IT Bank Jatim, Dodit, menilai tiga kata kunci yang menjadi judul buku tersebut sangat relevan dengan kondisi perbankan saat ini, yakni resiliensi, kompetitif, dan kontributif.
Ketiganya menggambarkan kebutuhan bank untuk memiliki ketahanan, meningkatkan daya saing, sekaligus memberikan hasil dan kontribusi melalui tata kelola perusahaan yang baik.
Sementara itu, Prof. Jojo menilai buku tersebut memiliki nilai penting bagi kalangan akademisi. Ia menyebut karya Prof. Mas’ud Said layak dipelajari oleh dosen maupun mahasiswa program doktoral.
“Sangat bagus ini. Semua dosen pasca dan mahasiswa S3 harus mempelajari ilmu baru perbankan ini. Saya lihat ini sangat detail, namun juga ada teori-teori baru yang kita harus tahu,” ujarnya.
Jawa Timur Dinilai Memiliki Ekosistem Kondusif
Dalam forum tersebut, Prof. Mas’ud Said juga memberikan pandangannya mengenai kondisi Jawa Timur. Ia menilai Jawa Timur memiliki situasi yang kondusif untuk mendukung perkembangan sektor perbankan daerah.
“Kita beruntung di Jatim, situasi kondusif. Stakeholder dan shareholder-nya suportif, kondisi ekonomi dan ekosistem pemerintahan serta kerja sama sangat baik,” ujar Mas’ud.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu modal penting bagi bank daerah dalam menghadapi tantangan sekaligus memperkuat perannya dalam pembangunan ekonomi daerah.
Bedah buku tersebut tidak hanya menjadi forum untuk membahas sisi bisnis perbankan, tetapi juga mempertemukan perspektif akademisi, praktisi, bankir, dunia usaha, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui tiga kata kunci resilient, competitive, dan contributive, Prof. M. Mas’ud Said menegaskan bahwa bank pembangunan daerah harus mampu bertahan menghadapi ketidakpastian, meningkatkan daya saing, memperkuat kelembagaan dan tata kelola, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
(Laporan:Spotnews.id-RYn)








