Tulungagung,Spotnews.id- Dari sebuah dapur sederhana di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, kisah inspiratif seorang ibu rumah tangga bernama Dewi Nurhidayah (37) menjadi bukti bahwa potensi lokal dapat tumbuh menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Sejak tahun 2015, Dewi merintis usaha keripik ketela dengan merek “Bu Dewi”, yang kini menjadi camilan favorit masyarakat di wilayah Karangrejo, Simo, Bungur, hingga Karangwaru.
Dengan modal awal seadanya dan tekad yang kuat, Dewi memproduksi keripik ketela manis dan varian balado secara mandiri setiap tiga hari sekali. Dari 5 kilogram ketela, ia mampu menghasilkan sekitar 1 kilogram keripik renyah. Produk camilannya dikemas dalam berbagai ukuran, dari kemasan kecil seharga Rp1.000 hingga kemasan besar 1 kilogram seharga Rp50.000, menjangkau berbagai segmen konsumen.
Meski masih berskala rumahan dan menjadi usaha sampingan, produk “Bu Dewi” telah menjadi langganan tetap di 10 warung dan 10 warung kopi lokal. Dari usaha tersebut, Dewi memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp300.000 per minggu, dengan margin keuntungan bersih mencapai 50%.
Langkah besar terjadi pada Maret 2025, ketika Dewi mendapatkan pembiayaan sebesar Rp1.600.000 dari BAZNAS Microfinance Desa (BMD) Tulungagung. Dana tersebut ia manfaatkan untuk membeli peralatan produksi seperti dandang dan wajan, serta untuk pengadaan bahan baku dan kemasan. Dengan bantuan ini, proses produksi menjadi lebih efisien, karena ia kini mampu mengukus seluruh bahan sekaligus dalam satu kali proses.
Namun perjalanan usahanya belum sepenuhnya mulus. Meski telah mengantongi sertifikasi halal, Dewi belum memiliki izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), yang menjadi syarat utama untuk dapat memasarkan produknya ke swalayan. Menanggapi hal ini, BMD Tulungagung melalui program Divisi Optimalisasi Pendistribusian dan Pendayagunaan Mustahik (OPPM) BAZNAS RI menawarkan dukungan berupa kurasi produk dan fasilitasi pendaftaran izin PIRT.
“Kalau sudah ada PIRT, saya berharap bisa masuk swalayan di Tulungagung, supaya pemasaran lebih luas lagi. Karena sebelumnya pernah bertanya ke swalayan, tapi belum bisa masuk karena belum ada PIRT,” ujar Dewi dengan penuh harap.
Selain itu, Dewi juga mengungkapkan keinginannya untuk memiliki mesin spinner, guna mengurangi kadar minyak pada keripiknya agar lebih sehat dan tahan lama. Namun, keterbatasan dana membuatnya belum bisa merealisasikan rencana tersebut dalam tahap pembiayaan pertama. Pihak BMD Tulungagung pun menyarankan agar Dewi mengajukan pembiayaan tahap kedua untuk mendukung pembelian peralatan tambahan yang dibutuhkan.
Dengan semangat, ketekunan, dan dukungan yang berkelanjutan, usaha Keripik Ketela “Bu Dewi” diyakini tidak hanya akan meramaikan pasar lokal, tetapi juga bersiap bersaing di rak swalayan dan membuka lebih banyak peluang bagi usaha mikro di Tulungagung.
(Laporan:Spotnews.id-Rn)








