Tulungagung,Spotnews.id- Di balik kepulan aroma nasi pecel yang menggoda dari sebuah warung sederhana di Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, tersimpan kisah inspiratif tentang ketekunan dan semangat hidup. Warung Sego Pecel Mak Ti, yang dikelola oleh Ibu Sutini bersama suami dan anaknya sejak tahun 2007, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan kuliner warga sekitar.
Setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB, warung ini menyuguhkan menu-menu tradisional khas Jawa Timur seperti nasi pecel, nasi campur, dan bubur dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8.000 hingga Rp18.000. Tak hanya menawarkan makanan lezat, warung Mak Ti juga menghadirkan suasana akrab yang membuat pelanggan merasa seperti makan di rumah sendiri.
Dalam kesehariannya, Ibu Sutini masih mengandalkan cara-cara pemasaran tradisional untuk memasarkan dagangannya. Selain berjualan langsung di warung, ia juga rutin berkeliling desa dan ikut serta dalam kegiatan Car Free Day (CFD) di pusat kota Tulungagung. Strategi sederhana ini ternyata cukup efektif. Selama CFD, pendapatan kotor warung bisa mencapai lebih dari Rp700.000 per hari, meningkat signifikan dibandingkan hari biasa yang berkisar antara Rp400.000 hingga Rp600.000. Dari angka tersebut, Ibu Sutini mampu mengantongi penghasilan bersih antara Rp150.000 hingga Rp250.000 per hari.
Cita rasa autentik dan pelayanan ramah membuat pelanggan lama terus kembali, bahkan menjadi bagian dari komunitas setia warung Mak Ti. Untuk menjaga kualitas, Ibu Sutini selalu memastikan bahan baku yang digunakan segar, dengan rutin berbelanja setiap sore dari toko sayur lokal.
Titik balik penting dalam perjalanan warung ini terjadi pada Maret 2025, ketika Ibu Sutini mendapatkan bantuan pembiayaan dari program BAZNAS Microfinance Desa (BMD) Kabupaten Tulungagung. Dana sebesar Rp3.000.000 yang diberikan tanpa bunga dan tanpa agunan itu dimanfaatkan secara bijak untuk membeli bahan baku, kursi tambahan, dan kompor baru. Meski tampak sederhana, dukungan ini membawa dampak signifikan dalam meningkatkan kenyamanan dan kualitas pelayanan di warung.
Bagi Ibu Sutini, bantuan dari BAZNAS bukan sekadar pinjaman. Lebih dari itu, ia merasakannya sebagai bentuk nyata keberpihakan lembaga terhadap pelaku usaha kecil yang terus berjuang di tengah tantangan zaman. “Dibantu meski sedikit, tapi sangat terasa manfaatnya. Bisa buat nambah alat-alat dapur yang sudah lama dipakai,” tuturnya.
Kini, meski warung Mak Ti belum memiliki layanan pesan antar, harapan untuk terus berkembang tetap menyala. Ibu Sutini bercita-cita suatu saat nanti usahanya bisa menjangkau lebih banyak pelanggan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Kisah warung Sego Pecel Mak Ti menjadi bukti bahwa keberhasilan tak selalu datang dari gebrakan besar. Terkadang, ia tumbuh dari ketekunan yang dijaga setiap hari, dari niat tulus untuk melayani, dan dari dorongan kecil yang datang di saat yang tepat. Bagi masyarakat Desa Sobontoro, warung ini bukan hanya tempat makan—tetapi simbol keteguhan dan harapan yang hidup dari dapur sederhana seorang ibu.
(Laporan:Spotnews.id-RYn)








