Opini :Heri Cahyo Bagus Setiawan membahas tentang Fenomena baru bernama job hugging kini ramai diperbincangkan di dunia kerja global (Dosen Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Surabaya & Direktur PT.RISET MANAJEMEN INDONESIA.
Surabaya, Spotnews.id – Fenomena baru bernama job hugging kini menjadi perbincangan di dunia kerja global. Istilah ini merujuk pada kecenderungan pekerja muda bertahan dalam pekerjaan tanpa gairah dan inovasi.
Di Indonesia, gejala serupa mulai terlihat, baik di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun karyawan startup. Banyak di antara mereka memilih zona aman dengan hanya menunggu instruksi atasan.
Dosen Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Surabaya, Heri Cahyo Bagus Setiawan, menilai kecenderungan tersebut berangkat dari rasa aman yang ditawarkan pekerjaan. Menurutnya, gaji, fasilitas, dan status memang memberi kepuasan, tetapi tidak serta merta menumbuhkan motivasi berprestasi.
“Teori motivasi Herzberg menjelaskan hal itu melalui istilah hygiene factors. Kehadiran faktor dasar mencegah keluhan, namun tidak menumbuhkan semangat kerja intrinsik,” ujarnya, Jumat (22/8/2025).
Heri menegaskan, sikap sekadar bertahan justru berisiko menimbulkan stagnasi. Dunia kerja, kata dia, menuntut adaptasi, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan. Karena itu, solusi yang perlu dibangun adalah semangat kewirausahaan dalam diri pekerja, yakni sikap proaktif, berani mengambil risiko, serta solutif.
ASN yang inovatif, tambahnya, dapat mendorong digitalisasi pelayanan publik. Sementara itu, karyawan swasta yang berani menyumbangkan ide baru akan menjadi aset berharga bagi perusahaan.
“Motivasi sejati, menurut teori Deci dan Ryan, lahir dari tiga hal penting, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Sayangnya, hal ini kerap terabaikan dalam budaya job hugging,” jelasnya.
Lebih jauh, Heri menekankan bahwa Indonesia sejatinya memiliki modal etos kerja berbasis nilai, seperti amanah, profesionalisme, dan kesungguhan. Hal tersebut dapat menjadikan pekerjaan bukan hanya sekadar tempat mencari aman, tetapi juga sarana memberi manfaat.
Ia pun menutup dengan pertanyaan yang ditujukan bagi generasi muda Indonesia: “Apakah mereka cukup puas dengan great stay, atau siap berkontribusi lebih” tutupnya.
(Sumber: RRI // Spotnews.id – Us)








