Surabaya, Spotnews.id- Salwa Laila Ramadhani (19) semakin menarik perhatian publik. Gadis kelahiran 16 Oktober 2006 yang kini tercatat sebagai mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu sukses meraih gelar 2nd Runner Up Puteri Kebaya Jawa Timur 2025 yang diselenggarakan oleh PT Showy Central Fashion dan dinobatkan sebagai Puteri Kebaya Inspiratif 2025.
Namun, prestasi itu tidak membuatnya berhenti berkiprah. Justru sebaliknya, Salwa melanjutkan langkahnya dengan menggagas gerakan sosial bertajuk PEBATRI (Percaya Diri dalam Balutan Tradisi). Lewat program ini, ia turun langsung ke rumah belajar anak-anak marginal bersama Komunitas Peduli Anak Indonesia (WEPOSE).
WEPOSE sendiri dikenal aktif mendirikan ruang-ruang belajar kecil bagi anak jalanan dan anak putus sekolah di berbagai titik di Surabaya. Di sanalah Salwa hadir, mengenalkan kebaya dengan cara yang menyenangkan dan penuh makna. Anak-anak diajak mencoba kebaya bergaya modern, namun tetap setia pada pakem tradisionalnya.
“Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan Allah untuk melakukan hal-hal positif. Dulu ini hanya bayangan saja. Tapi dengan niat yang sungguh-sungguh, akhirnya saya bisa bergabung dengan komunitas seperti WEPOSE ini,” ujar Salwa pada Rabu (5/11), di Surabaya.
Salwa Laila Ramadhani (tengah) saat meraih 2nd Runner Up Puteri Kebaya Jatim 2025, didampingi Puteri Kebaya Remaja Indonesia (kiri) dan 2nd Runner Up Puteri Kebaya 2024 (kanan), di Ballroom Hotel Suites, Surabaya.
Sosok yang hobi menulis puisi, berenang, dan latihan catwalk ini percaya, kebaya bukan sekadar pakaian adat, melainkan simbol jati diri bangsa. “Anak-anak ini saya ajak untuk bangga memakai kebaya. Tradisi itu milik kita semua, bukan hanya milik orang dewasa atau yang berada di atas panggung,” jelasnya.
Gelar yang diraihnya pada 27 September 2025 lalu di Ballroom Hotel Suites, Surabaya, menjadi pijakan kuat dalam gerakannya. Meski ikut kompetisi sebagai inisiatif pribadi, Salwa berharap prestasinya bisa memberi semangat baru bagi rekan-rekan mahasiswa untuk terus melestarikan budaya Indonesia.
Perjalanan ini memiliki makna mendalam bagi Salwa. Ia mengakui sejak awal dirinya adalah pribadi yang mudah gugup dan sering merasa kurang percaya diri di depan publik. “Saya belajar bahwa keberanian sejati bukan berarti tanpa rasa takut, melainkan berani melangkah meski rasa takut itu masih ada,” tuturnya. Ia percaya, sekecil apa pun langkah yang diambil dengan kesungguhan, pasti akan membawanya lebih dekat pada versi terbaik dirinya sendiri.
Kebaya bukan sekadar pakaian adat, melainkan simbol jati diri bangsa yang patut dibanggakan lintas generasi. “Kalau kita saja tidak bangga dengan budaya sendiri, bagaimana orang lain mau menghargainya?” pungkas Salwa.
(Laporan:Spotnews.id-US)









