Spotnews.id – Sampah merupakan masalah kompleks yang mencakup aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi. Di Desa Kragan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, mulai menemukan titik terang. Berkat pendekatan edukatif berbasis multimedia dan pendirian bank sampah, dan juga dengan adanya Penelitian yang dilakukan oleh tim yang terdiri Peneliti dan Kelompok Mahasiswa KKN, Nuzulul Fatimah Selaku Ketua Tim & KKN Desa Krangan Yang merupakan Dosen Prodi S1 Manajemen (FEBTD) diUNUSA, Lisa Suryandari,S.Sos,MM (Independend researcher), Silvi Hamidah (Ketua Kelompok KKN), Ananda Putra Pratama,Handika Cahya Saputra,Moh. Farid, Wahyudi Nizam, Andini Alfi Z, Alfina Pramuswari, Naswa Nabila P, Rakuty Ardan P, Achmad Reza A. warga desa kini menunjukkan perubahan signifikan dalam kesadaran dan perilaku terhadap pengelolaan limbah rumah tangga.
Di tengah meningkatnya produksi sampah rumah tangga dan minimnya kesadaran warga terhadap pengelolaannya, sebuah inisiatif lokal di Desa Kragan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, mulai menunjukkan dampak positif. Melalui program Bank Sampah, warga desa diajak untuk tidak hanya mengelola limbah secara bertanggung jawab, tetapi juga memanfaatkannya sebagai sumber nilai ekonomi dan penguatan sosial.
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi bersama Bapak Junaidi Selaku Kepada desa (Kades) didesa Kragan, diketahui bahwa Desa Kragan menghasilkan lebih dari 1,7 ton sampah setiap hari, namun hanya sebagian kecil yang masuk ke dalam sistem pengelolaan resmi. Sebagian besar sampah masih dibakar atau dibuang sembarangan, menimbulkan potensi pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan.
Menjawab persoalan ini, program Bank Sampah hadir bukan hanya sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi. Warga diajak memilah sampah dari rumah, menyetorkannya ke bank sampah, dan menerima imbal balik dalam bentuk tabungan atau kebutuhan pokok.
“Di RT 08, hasil penjualan sampah bahkan dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan ziarah warga,” ujar Bu Ima Wiedarini(sebagai pengelola bank sampah).
Beberapa warga juga telah memulai inisiatif kreatif, seperti peternakan maggot dan pengomposan mandiri, meski masih belum difasilitasi secara formal oleh pemerintah desa. sambungnya
Namun, perjalanan menuju pengelolaan sampah yang ideal belum sepenuhnya mulus. Rendahnya iuran warga, tingginya biaya operasional, dan sistem tarif pembuangan berbasis tonase menjadi tantangan tersendiri. “Iurannya masih rendah, dan kalau mau dinaikkan sering ada pro-kontra,” jelas narasumber dari tim pengelola. Selain itu, banyak warga masih belum memilah sampah secara aktif, meski mereka rutin menyetorkan ke bank sampah.
Meski demikian, perubahan perilaku mulai tampak. Kesadaran warga meningkat, terutama setelah sosialisasi dan edukasi yang dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan pendampingan lapangan. Terbentuknya tim pengelola bank sampah dan mulai diterapkannya sistem tabungan sampah menjadi indikator keberhasilan awal program ini.
Multimedia sebagai Sarana Perubahan
Melalui program pengabdian masyarakat, tim mahasiswa Prodi S1 Manajemen FEBTD UNUSA memperkenalkan pendekatan inovatif: edukasi melalui video pendek, poster digital, dan sosialisasi tatap muka. Konten disebarluaskan lewat media sosial Instagram dan YouTube serta dipasang di lokasi strategis desa untuk menjangkau warga tanpa akses internet.
Upaya ini terbukti efektif. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas warga telah terpapar konten edukatif, dengan poster pemilahan sampah menjadi materi paling berkesan. Kesadaran memilah sampah meningkat dari skor 2,3 menjadi 4,5, berdasarkan metode retrospective pre-post.
“Warga sekarang mulai memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, bahkan menyebarkan informasi ke tetangga,” ujar Dr.Nuzulul Fatimah,S.E, M.M (Koordinator Pengabdian Masyarakat Unusa).
Bank Sampah sebagai Motor Perubahan
Sebagai bagian dari program, didirikan pula Bank Sampah sederhana yang menjadi pusat pengumpulan sampah anorganik sekaligus sarana edukasi lingkungan. Warga kini secara rutin menyetorkan sampah, yang kemudian diolah dan dijual. Hasilnya tidak hanya membantu kebersihan desa, tetapi juga mendanai kegiatan sosial seperti ziarah rutin warga RT 08.
Ibu Ima Wiedarini, salah satu tokoh masyarakat Kragan, mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah di desanya kini jauh lebih baik. Bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), warga membentuk sistem berbasis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan BUMDes. Sampah anorganik pun kini dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomi.
Model untuk Desa Lain
Dengan mengintegrasikan tiga pendekatan—digital, fisik, dan tatap muka—program ini menawarkan model edukasi lingkungan yang dapat direplikasi di daerah lain. Tim pengabdian berharap, dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa dan instansi terkait, Bank Sampah Kragan bisa menjadi pusat pelatihan komunitas untuk pengelolaan sampah berkelanjutan.
Pengelola berharap ke depan Bank Sampah Kragan dapat menjadi pusat pelatihan lingkungan berbasis masyarakat, bahkan menjadi program binaan resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK).
Melalui langkah-langkah ini, Desa Kragan tak hanya menjawab tantangan sampah, tapi juga membangun fondasi bagi desa yang lebih hijau, sehat, dan berdaya.
(Sumber: Spotnew.id -Iz)










