Opini : Muhammad. Firdaus Al Faaiz
Spotnews.id – Diera Belakangan ini muncul ungkapan yang memilukan sekaligus menggelitik hati: seseorang bisa terlihat seolah-olah ‘Ateis’ saat segala sesuatu berjalan baik dan ‘Beragama’ saat ujian dan kesedihan datang. Ungkapan ini disoroti oleh Cak Al Faaiz, yang merupakan Aktivis Islam, sebagai bentuk fluktuasi iman yang harus dikoreksi dalam Islam dan beragama.
Menurut Cak Al Faaiz, iman tidak boleh dijadikan benda yang diambil hanya ketika dibutuhkan, layaknya payung di kala hujan tapi dilupakan saat langit mendung pun telah berlalu. “Agama bukanlah aksesori emosi,” tegasnya dalam sesi ngopi (Ngobrol Perkara Iman) malam tadi.
Sikap yang Diingatkan
-
Konsistensi Iman dalam Segala Keadaan
Islam mengajarkan istiqamah — berpegang teguh dalam ketaatan kepada Allah SWT bukan hanya ketika sedih atau susah, tetapi juga saat bahagia dan lapang. Cak Al Faaiz mengingatkan bahwa hati manusia sering diuji bukan hanya oleh cobaan keras, tetapi juga oleh kenikmatan yang bisa menjerumuskan ke lalai dan sombong. -
Syukur sebagai Rangkaian Keimanan di Saat Bahagia
Ketika senang, ketika nikmat Allah melimpah, saat itu seharusnya hati dipenuhi rasa syukur, bukan lupa. Syukur bukan hanya ucapan lisannya saja, tetapi tercermin dalam amalan: salat, puasa, sedekah, menjaga adab terhadap sesama. Bila tidak, nikmat itu bisa menjadi sebab manusia lalai akan Tuhannya. -
Kesabaran dan Tawakal di Saat Sedih
Ketika kesulitan datang, banyak yang baru mengingat Allah, berdoa, dan kembali ke jalur agama. Menurut Cak Al Faaiz, ini baik, tetapi iman yang tumbuh hanya di musim duka mudah goyah bila ujian lain datang. Orang yang beriman sejati adalah yang tetap bersabar, tetap berpegang kepada agama, tidak hanya dalam doa tetapi dalam kerja nyata dan keikhlasan, walau saat itu terasa berat.
Dalil dan Landasan dalam Islam
-
Al‑Qur’an mengingatkan manusia agar tidak lupa kepada Allah dalam masa lapang:
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia menyeru Tuhannya… kemudian apabila Dia memberikan nikmat kepada-Nya, dia lupa bahaya yang dulu dipanjatkan.” (QS. Az‑Zumar: 8)
-
Hadis yang memerintahkan istiqamah, bahwa “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.” Ini menunjukkan bahwa yang penting bukan semata banyaknya ibadah sesaat, tetapi keberlanjutan dalam iman dan ibadah.
Cak Al Faaiz mengajak seluruh pembaca untuk melakukan muhasabah diri: apakah kita termasuk orang yang iman‑nya naik turun tergantung kondisi? Atau termasuk orang yang keimanannya kukuh, baik di kala senang maupun di kala susah?
Ia mengingatkan: “Jangan biarkan iman hanya sebagai pelampias emosi. Jadikan ia sebagai landasan hidup, yang membimbing tindakan kita dalam suka maupun duka. Bila iman kuat dan konsisten, maka kita tidak akan gentar menghadapi badai, dan tidak lupa bersyukur dalam rona senja.”
– Muhammad Firdaus Al Faaiz –
(Sumber : Spotnews.id – zt)








